Selasa, 11 April 2017

amalan أفضل أعمالي

1 komentar:
asssalamu 'alaikum wr.wb
disiang hari yang berbahagia ini yang diselimuti dengan awan yang mendung, gerimis membawa kita dalam khayalan, sama hal nya dengan apa yang pernah saya rasakan di Rumah Gemilang Imdonesia ini. yang mana pertama kali ke RGI saya harus kuat jauh dari kampung mnelangkah kaki menuju RGI supaya menjadi gemilng. teringat dengan satu hal dimana di waktu mabit saya di tunjuk sebagai pengisi acara yaitu sebagai qori'ah atau tilawati qur'an dna kegiatan lainnya

Senin, 20 Maret 2017

ILMU HADIST

Tidak ada komentar:
I. Pengertian Hadits Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat-sifat, keadaan dan himmah nya Taqrir adalah perbuatan atau keadaan sahabat yang diketahui Rosulullah dan beliau mendiamkannya atau mengisyaratkan sesuatu yang menunjukkan perkenannya atau beliau tidak menunjukkan pengingkarannya. Himmah adalah hasrat beliau yang belum terealisir, contohnya hadits riwayat Ibnu Abbas : Dikala Rosulullah saw berpuasa pada hari Asura dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata : Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani, Rasulullah menyahuti : Tahun yang akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa tanggal sembilan. (HR Muslim dan Abu Dawud) tetapi Rasulullah tidak sempat merealisasikannya, disebabkan beliau telah wafat. Menurut Imam Syafii bahwa menjalankan himmah itu termasuk sunnah, tetapi Imam Syaukani mengatakan tidak termasuk sunnah karena belum dilaksanakan oleh Rasulullah. Khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi dan para sahabat, jadi setiap hadits termasuk khabar tetapi tidak setiap khabar adalah hadits. Atsar adalah segala sesuatu yang lebih umum dari hadits dan khabar, yaitu termasuk perkataan tabiin, tabiit-tabiin dan para ulama salaf. Biasanya perkataan yang disandarkan atau berasal dari selain Nabi disebut atsar. Sunnah adalah Jalan hidup atau kebiasaan yang ditempuh dalam berbuat dan beritiqad (berkeyakinan). Dikatakan sunnah Nabi jika itu disyariatkan, ditempuh dan diridloi oleh Nabi. Hadits Qudsi adalah hadits yang mengandung kalimat langsung perkataan Allah, cirinya dimulai dengan Allah berkata Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Quran : a. Semua lafad ayat-ayat Al-Quran adalah mukjizat dan mutawatir, sedang Hadits Qudsi tidak. b. Perlakuan terhadap Al-Quran -dilarang menyentuhnya bagi yang berhadas kecil, dilarang membacanya bagi yang ber hadas besar- tidak berlaku bagi Hadits Qudsi. c. Membaca Al-Quran setiap hurufnya mendatangkan pahala, sedang membaca Hadits Qudsi tidak. d. Al-Quran semua susunan kata-katanya redaksinya berasal dari Allah, sedangkan Hadits Qudsi redaksi kata-katanya terserah Rasulullah lebih lengkap lihat disini

Selasa, 14 Maret 2017

Selasa, 07 Maret 2017

SEMINAR

Tidak ada komentar:
seminar setiap sabtu pagi di RGI
Selasa, 07/03/2017 dirumah gemilang indonesia(RGI) Mengadakan seminar satu kali seminggu setiap hari sabtu yaitu dari pukul 09.00-12.00. dengan mengangkat tema yaitu public speaking.
seminar yang berlangsung diruang mushallah putri dan dihadiri oleh dosen dan santri RGI terutamanya anak AP sama anak TKJ. seminar ini membahas tentang bagaimana prospek ilmu sastra dalam dunia kerja atau dalam dunia pendidikan, karna semua program studi. pekerjaan dan lain lain tidak terlepas dari public speaking.
pembahasan dalam acara seminar ini diikuti juga tanyak jawab antara pembicara dan peserta yang menjadi pendengarnya.
ada seorang santri RGI, saya lupa namanya. dia menanyakan: "bagaimana peluang seseorang dinegara maju yang memiliki skill dan good speak?" kemudian dosen buk sugiarti menjawab: "sederhana saja, kalau bahasa inggrisnya bisa peluangnya juga pasti ada. bagian penting selain mempelajari bahasa adalah percaya diri

Senin, 06 Maret 2017

Selasa, 28 Februari 2017

Senin, 20 Februari 2017

workshop

Tidak ada komentar:
assalamu alaikum wr.wb
hari ini kami sedang mengerjakan soal ulangan atau biasa di sekolah dengan sebutan ujian, yaitu ulangan masalah pengenalan internet dan saya lagi mengerjakan jawaban soal ulangan hari ini. hadehhhh pusing banget dah.. bingung mau jawab apaan. dan saya bersama teman teman dan instuktur saya atau pembimbing di kelas AP yaitu ustadz muhidin saimin, saya biasa manggil ustadz muhidin dengan sebutan ustadz, karna bagi saya sebutan nama ustadz itu lebih akrab di dengar dari pada dengan sebutan bapak, kami di kasih soal atau ulangan supaya kami tau sejauh mana pelajaran yang telah kami pelajari dirumah gemilang indonesia. saya bangga dan bersyukur karna saya diberi allah kesempatan untuk bisa belajar dirumah gemilang indonesia. maka pesan saya.
jangan mudah mengeluh dengan apa yang kita rasakan atau dengan keadaan kita. kita serahkan semua hanya kepada allah karna allah lebih tau apa yang kita tidak ketahui. berusaha dan berdoa kepada allah. kadang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetaplah semangat dan pikirkan jalan keluarnya, dan jangan pernah berhenti sebelum semua sesuai dengan apa yang kita harapkan.

saya tetti purnama sari rambe
tetap semangat. ma'an najah

Selasa, 24 Januari 2017

Kapan Jari Telunjuk Diturunkan Dalam Tasyahud Akhir?

Tidak ada komentar:
Syaikh Ahmad Al-Barlisi ‘amiiratusy -Syafi’i (wafat 957 H), berkata, “Dengan bentuk mengisyaratkan jari telunjuk yang manapun dari yang sudah disebutkan di atas (dalam kitab beliau-pent) seseorang yang melakukannya sudah terhitung mengamalkan sunnah tersebut. Adapun yang menjadi perselisihan ulama adalah sebatas mana yang afdhal”. Ucapannya selesai, diambil dari Hasyiah ‘Amiiroh (1/188). Lihat juga Al-Majmu’ tulisan An-Nawawi (3/434).
Perselisihan dalam masalah afdhaliyyah ini adalah perkara ijtihad ulama yang (masing-masing pendapat) masih bisa dikatakan memiliki alasan ilmiyyah karena tidak adanya dalil yang jelas dan pasti dalam hal ini.
Ada sebuah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam saat duduk di dalam shalatnya meletakkan telapak tangan kanannya di atas lututnya dan mengangkat jari sebelah jempolnya (telunjuk-pent). Beliau berdo’a dengannya, sedangkan telapak tangan kirinya diletakkan di atas lutut yang satunya. Beliau membuka telapak tangan kiri tersebut dan diletakkan di atas lututnya. Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya (no. 294) dan berkata, “Hadits Ibnu Umar ini hadits hasan gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadits Ubaidillah bin Umar kecuali dari sisi ini. Sebagian ulama dari kalangan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’in mengamalkannya. Mereka memilih isyarat jari telunjuk ketika tasyahhud dan pendapat ini adalah pendapat ulama madzhab kami”. Ucapannya selesai. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam kitab Shahih At-Tirmidzi.
Sabda beliau (dan mengangkat jari sebelah jempolnya [telunjuk-pent] yang digunakan berdo’a oleh beliau) menunjukan bahwa mengangkat telunjuk dimulai ketika berdo’a dalam tasyahhud. Adapun lafadz do’a dimulai dari dua kalimat syahadat karena di dalamnya terdapat pengakuan dan penetapan kemahaesaan Allah ‘azza wa jalla, sedangkan hal itu sebab suatu do’a lebih berpeluang dikabulkan. Selanjutnya mulailah mengucapkan inti do’anya (Allahumma shalli ‘ala Muhammad) hingga akhir tasyahhud dan sampai akhir salam. Adapun awal tasyahhud (Attahiyyatulillah sampai ucapan kita wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin) bukanlah termasuk do’a, namun itu adalah bentuk memuji Allah dan do’a kesalamatan bagi hamba-Nya.
Riwayat-riwayat yang ada dari para sahabat dan tabi’in dalam masalah ini menunjukkan bahwa mengisyaratkan jari telunjuk maksudnya adalah isyarat kepada tauhid dan ikhlas. Jadi (isyarat), jari telunjuk tersebut hakikatnya adalah ungkapan dalam bentuk perbuatan tentang keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, maka pantaslah jika awal isyarat telunjuk adalah lafadz syahadat (Asyhadu an laa ilaaha illallahu). Oleh karena itu Ibnu Abbbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Isyarat tersebut adalah ungkapan keikhlasan”.
Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang mengisyaratkan dengan jari (telunjuknya) dalam shalat, maka hal itu baik dan itu ungkapan tauhid”, diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah dalam Mushannaf (2/368).
Apa yang disebutkan di atas adalah salah satu pendapat di kalangan ahli fiqih, yaitu permulaan isyarat telunjuk saat syahadat tauhid.
Adapun masalah kapan selesainya isyarat telunjuk tersebut, para sahabat yang meriwayatkan mengangkat jari telunjuk tidaklah menyebutkan nabi shallallahu alaihi wa sallam sallam menurunkannya (di bagian tertentu sebelum selesainya salam-pent), maka (dapat disimpulkan) bahwa mengangkat jari telunjuk itu terus sampai selesai salam, terlebih lagi akhir tasyahhud semuanya adalah do’a .
untuk selengkapnya klik disini

Senin, 23 Januari 2017

CLOUD COMPUTING

Tidak ada komentar:
CLOUD COMPUTING
komputasi awan atau biasa kita sebut dengan cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer(komputasi). pengembangan berbasis internet(awan).
awan(cloud) adalah metafora dari internet. awan cloud dalam cloud computing juga merupakan abstraksi dari infrastruktur komplek yang disembunyikan.
dan juga merupakan suatu metoda komputasi dimana kapabilitas terkait teknologi informasi disajikan sebagai suatu layanan atau disebut dengan (as a service). sehingga pengguna dapa mengaksesnya
dan berbicara tentang pengertian ABSTRAKSI,  abtraksi ialah proses representasi data dan program dalam bentuk sama dengan pengertiannya(semantik).
menurut sebuah makalah pada tahun 2008 yang di publikasi IEEE internet computing atau biasa disebut dengan "cloud computing adalah suatu paradigma dimana informasi secara permanen tersimpandi server di internet dan tersimpan secara sementara dikomputer pengguna(client) yang termasuk didalam nya adalah desktop.
MANFAAT KOMPUTASI AWAN
skalibilitas: yaitu dengan cloud computing kita bisa meambah kapasitas penyimpanan data tanpa harus membeli peralatan tambahan misalnya hardisk
aksesibilitas: yaitu kita bisa mengakses data kapanpun dan dimanapunkita berada, asal kita terkoneksi dengan internet, sehingga memudahkan kita mengakses data disaat yang penting.
keamanan: yaitu data kita bisa terjamin keamanannya oleh penyedia layanan cloud computing.
kreasi: yaitu para user bisa melakukan/mengembangkan kreasi atau project mereka tanpa harus mengirimkan project mereka langsung keperusahaan
kecemasan: ketika terjadi bencana alam data milik kita tersimpan aman dicloud meskipun hardisk atau gadget kita rusak
untuk keterangan selengkapnya boleh di download disini

Kamis, 19 Januari 2017

Inilah Sebab Gagalnya Doa

Tidak ada komentar:
Doa adalah sarana menyampaikan permohonan kepada Allah Ta’ala terkait dengan semua jenis kebaikan. Seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala umumnya ketika dirinya berada dalam kondisi sulit, uang kehabisan, tak punya pekerjaan, rumah tangga tak karuan, belum bayar kontrakan, dll.
Padahal memohon kepada Allah Ta’ala dianjurkan bukan hanya saat kesulitan mendera. Pada saat bersuka cita pun, mestinya kita tetap memohon kepada Allah Ta’ala. Namun begitulah manusia. Terkadang mendekat pada Rabbnya  hanya sebatas pada saat kondisi sulit. Setelah lewat masa sulit itu, tak jarang mereka kembali pada watak aslinya.
Allah Ta’ala akan murka kepada hamba-Nya yang enggan berdoa. Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa tidak meminta kepada Allah, Allah murka padanya.”
Ketika kita berdoa kepada Allah Ta’ala, pernahkah kita merasa Dia tak mengijabah doa kita? Merasa bahwa doa yang dipanjatkan selama ini sia-sia?
Jika hal itu pernah dirasakan, perhatikanlah apa yang disampaikan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab ad-Da’u wa ad-Dawa. Beliau mengatakan, “Salah satu penyebab gagalnya suatu doa adalah sifat tergesa-gesa dalam menanti terkabulnya doa. Hamba yang berdoa itu terlalu terburu-buru. Ia merasa ijabah-Nya lambat, atau terlalu mundur datangnya sehingga membuatnya cemas. Akhirnya dia meninggalkan doa sama sekali.”
Hal ini dipertegas dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tercantum dalam Shahih Bukhari.  “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kalian selama tidak tergesa-gesa, (apalagi) mengatakan, ‘Aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan.’” (Hr. Imam al-Auza’I Rahimahullahu Ta’ala)
Mari kita ingat kembali doa-doa yang selama ini kita panjatkan kepada Allah Ta’ala. Adakah kiranya kita tergesa-gesa dalam berdoa? Ingin cepat-cepat dikabulkan dan pada akhirnya kita putus asa sehingga membuat kita  meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala?
Bila hari-hari kemarin kita masih saja seperti itu, maka yang perlu kita lakukan adalah memperbaharui kesungguhan dalam berdoa dan tak hentinya mengharapkan ijabah dari-Nya. Karena, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa.” (Hr. Imam al-Auza’i Rahimahullahu Ta’ala).

Selasa, 10 Januari 2017

ISLAM DAN ILMU

7 komentar:
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual mengacu paada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu (science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by observation and testing of fact (And English reader’s dictionary)
“Science is a systematized knowledge obtained by study, observation, experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary)
dari pengertian di atas nampak bahwa Ilmu memang mengandung arti pengetahuan, tapi pengetahuan dengan ciri-ciri khusus yaitu yang tersusun secara sistematis atau menurut Moh Hatta (1954 : 5) “Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut Ilmu”.
2. Kedudukan Ilmu Menurut Islam
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali , ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dariagama Islam sebagamana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani9(1995;; 39) sebagai berikut ;
‘’Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al –sunah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan ,serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi’’
ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:
“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan).dan ALLAH maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ILmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan dengan fuirman ALLah:
“sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah ulama (orang berilmu) ; (surat faatir:28)
Disamping ayat –ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu, seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayayt 114 yang artinya “dan katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan “. dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu ,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya membaca , sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5 yang artuinya:
“bacalah dengan meyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia
telah menciptakan Kamu dari segummpal darah .
Bacalah,dan tuhanmulah yang paling pemurah.
Yang mengajar (manusia ) dengan perantara kala .
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”
Ayat –ayat trersebut , jelas merupakan sumber motivasi bagi umat islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu,untuk terus membaca ,sehingga posisi yang tinggi dihadapan ALLah akan tetap terjaga, yang berearti juga rasa takut kepeada ALLah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh , dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi denga ilmu akan membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjd (1992: 130) meyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal .
Di samping ayat –ayat AL qur”an, banyak nyajuga hadisyang memberikan dorongan kuat untukmenuntut Ilmu antara lain hadis berikut yang dikutip dari kitab jaami’u Ashogir (Jalaludin-Asuyuti, t. t :44 ) :
“Carilah ilmu walai sampai ke negri Cina ,karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagisetuap muslim’”(hadis riwayat Baihaqi).
“Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim . sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut “(hadist riwayat Ibnu Abdil Bar).
Dari hadist tersebut di atas , semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu ,dimana menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam tanpa mengenal batas wilayah,
3. Klarsfikasi Ilmu menurut ulama islam.
Dengan melihat uraian sebelumnya ,nampak jelas bagaimana kedudukan ilmu dalam ajaran islam . AL qur’an telah mengajarkan bahwa ilmu dan para ulama menempati kedudukan yang sangat terhormat, sementara hadis nabimenunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Dari sini timbul permasalahan apakah segala macam Ilmu yang harus dituntut oleh setiap muslim dengan hukum wajib (fardu), atau hanya Ilmu tertentu saja ?. Hal ini mengemuka mengingat sangat luasnya spsifikasi ilmu dewasa ini .
Pertanyaan tersebut di atas nampaknya telah mendorong para ulama untuk melakukan pengelompokan (klasifikasi) ilmu menurut sudut pandang masing-masing, meskipun prinsip dasarnya sama ,bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim. Syech Zarnuji dalam kitab Ta’liimu AL Muta‘alim (t. t. :4) ketika menjelaskan hadis bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim menyatakan :
“Ketahuilah bahwa sesungguhya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntutsegsls ilmu ,tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu AL hal) sebagaimana diungkapkan ,sebaik-baik ilmu adalah Ilmu perbuaytan dan sebagus –bagus amal adalah menjaga perbuatan”.
Kewajiban manusia adalah beribadah kepeda ALLah, maka wajib bagi manusia(Muslim ,Muslimah) untuk menuntut ilmu yang terkaitkan dengan tata cara tersebut ,seprti kewajiban shalat, puasa, zakat, dan haji ,mengakibatkan wajibnya menuntut ilmu tentang hal-hal tersebut . Demikianlah nampaknya semangat pernyataan Syech Zarnuji ,akan tetapi sangat di sayangkan bahwa beliau tidak menjelaskan tentang ilmu-ilmu selain “Ilmu Hal” tersebut lebih jauh di dalam kitabnya.
Sementara itu Al Ghazali di dalam Kitabnya Ihya Ulumudin mengklasifikasikan Ilmu dalam dua kelompok yaitu 1). Ilmu Fardu a’in, dan 2). Ilmu Fardu Kifayah, kemudian beliau menyatakan pengertian Ilmu-ilmu tersebut sebagai berikut :
“Ilmu fardu a’in . Ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib, Maka orang yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu wajibnya, berartilah dia sudah mengetahui ilmu fardu a’in “ (1979 : 82)
“Ilmu fardu kifayah. Ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakan urusan duniawi “ (1979 : 84)
Lebih jauh Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk ilmu fardu a’in ialah ilmu agama dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Islam, sementara itu yang termasuk dalam ilmu (yang menuntutnya) fardhu kifayah antara lain ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, bahkan ilmu menjahit, yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakan urusan dunia.
Klasifikasi Ilmu yang lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang membagi kelompok ilmu ke dalam dua kelompok yaitu :
1. Ilmu yang merupakan suatu yang alami pada manusia, yang ia bisa menemukannya karena kegiatan berpikir.
2. Ilmu yang bersifat tradisional (naqli).
bila kita lihat pengelompokan di atas , barangkali bisa disederhanakan menjadi 1). Ilmu aqliyah , dan 2). Ilmu naqliyah.
Dalam penjelasan selanjutnya Ibnu Khaldun menyatakan :
“Kelompok pertama itu adalah ilmu-ilmu hikmmah dan falsafah. Yaituilmu pengetahuan yang bisa diperdapat manusia karena alam berpikirnya, yang dengan indra—indra kemanusiaannya ia dapat sampai kepada objek-objeknya, persoalannya, segi-segi demonstrasinya dan aspek-aspek pengajarannya, sehingga penelitian dan penyelidikannya itu menyampaikan kepada mana yang benar dan yang salah, sesuai dengan kedudukannya sebagai manusia berpikir. Kedua, ilmu-ilmu tradisional (naqli dan wadl’i. Ilmu itu secara keseluruhannya disandarkan kepada berita dari pembuat konvensi syara “ (Nurcholis Madjid, 1984 : 310)
dengan demikian bila melihat pengertian ilmu untuk kelompok pertama nampaknya mencakup ilmu-ilmu dalam spektrum luas sepanjang hal itu diperoleh melalui kegiatan berpikir. Adapun untuk kelompok ilmu yang kedua Ibnu Khaldun merujuk pada ilmu yang sumber keseluruhannya ialah ajaran-ajaran syariat dari al qur’an dan sunnah Rasul.
Ulama lain yang membuat klasifikasi Ilmu adalah Syah Waliyullah, beliau adalah ulama kelahiran India tahun 1703 M. Menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok menurut pendapatnya ilmu dapat dibagi kedalam tiga kelompok yaitu : 1). Al manqulat, 2). Al ma’qulat, dan 3). Al maksyufat. Adapun pengertiannya sebagaimana dikutif oleh A Ghafar Khan dalam tulisannya yang berjudul “Sifat, Sumber, Definisi dan Klasifikasi Ilmu Pengetahuan menurut Syah Waliyullah” (Al Hikmah, No. 11, 1993), adalah sebagai berikut :
1). Al manqulat adalah semua Ilmu-ilmu Agama yang disimpulkan dari atau mengacu kepada tafsir, ushul al tafsir, hadis dan al hadis.
2). Al ma’qulat adalah semua ilmu dimana akal pikiran memegang peranan penting.
3). Al maksyufat adalah ilmu yang diterima langsung dari sumber Ilahi tanpa keterlibatan indra, maupun pikiran spekulatif
Selain itu, Syah Waliyullah juga membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok yaitu : 1). Ilmu al husuli, yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat indrawi, empiris, konseptual, formatif aposteriori dan 2). Ilmu al huduri, yaitu ilmu pengetahuan yang suci dan abstrak yang muncul dari esensi jiwa yang rasional akibat adanya kontak langsung dengan realitas ilahi .
Meskipun demikian dua macam pembagian tersebut tidak bersifat kontradiktif melainkan lebih bersifat melingkupi, sebagaimana dikemukakan A.Ghafar Khan bahwa al manqulat dan al ma’qulat dapat tercakup ke dalam ilmu al husuli
4. Apakah filsafat itu ?
Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani dari kata “philo” berarti cinta dan” sophia” yang berarti kebenaran, sementara itu menurut I.R. Pudjawijatna (1963 : 1) “Filo artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu . Sofia artinya kebijaksanaan , bijaksana artinya pandai, mengerti dengan mendalam, jadi menurut namanya saja Filsafat boleh dimaknakan ingin mengerti dengan mendalam atau cinta dengan kebijaksanaan.
Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak. Menurut Sidi Gazlba (1976 : 25) Pengetahuan ilmu lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset dan/atau eksperimen) ; batasnya sampai kepada yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian. Pengetahuan filsafat : segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi; batasnya ialah batas alam namun demikian ia juga mencoba memikirkan sesuatuyang diluar alam, yang disebut oleh agama Tuhan. Sementara itu Oemar Amin Hoesin (1964 : 7) mengatakan bahwa ilmu memberikan kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmat
5. Apakah Filsafat Ilmu itu ?
filsat ilmu pada dasarnya merupakan upaya untuk menyoroti dan mengkaji ilmu, dia berkaitan dengan pengkajian tentang obyek ilmu, bagaimana memperolehnya serta bagaimana dampai etisnya bagi kehidupan masyarakat. Secara umum kajian filsafat ilmu mencakup :
1) Aspek ontologis
2) Aspek epistemologis
3) Axiologis
Aspek ontologis berkaiatan dengan obyek ilmu, aspek epistemologis berkaiatan dengan metode, dan aspek axiologis berkaitan dengan pemanfatan ilmu. Dari sudut ini folosuf muslim telah berusaha mengkajinya dalam suatu kesatuan dengan prinsip dasar nilai-nilai keislamanyang bersumebr pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

artikel asli ada disinihttps://uharsputra.wordpress.com/filsafat/islam-dan-ilmu/

harapan di kelas Aplikasi perkantoran(AP)

Tidak ada komentar:
harapan saya
 harapan saya belajar di kelas Aplikasi perkantoran ialah supaya saya bisa belajar komputer dan aplikasi aplikasi perkantoran misalnya microsoft word,microsop excel, power point,internet dan lain sebagainya,  karena jaman sekarang apa yang kita cari semua udah ada didalam aplikasi internet misalnya google,youtube,dan lain-lain sebagainya, dan saya ingin kerja diperkantoran atau perusahaan
 
back to top